Have You Been There? Have You Been There?

Catatan Kuratorial Pameran Ugo Untoro

By Rizki A. Zaelani • Curatorial Essay •2023

Ugo dan Teritorial Asing

Asumsi kita paling kokoh mengenai Ugo Untoro, boleh jadi, adalah soal monumen. Tentang sosok, perjalanan hidup, gagasan, tindakan, maupun ekspresi seni yang diciptakan melalui karya-karyanya adalah monumental. Ugo punya cara dan gaya khas untuk terus dikenang. Sebuah monumen, sejatinya, memendam tiga soal yang bagi kebanyakan tak lagi diacuhkan: tentang masa lalu, kini, dan yang mendatang. Umumnya, seseorang mengenang monumen sebagai perkara masa lalu (sejarah) saja. Sebenarnya, monumen justru bermakna bagi masa kini, dan terutama terhadap masa depan seseorang. Sedangkan masa lalu justru bisa sarat dengan salah duga dan salah sangka. “Kita sama-sama tahu apa yang bisa dibawa oleh memori [masa lalu],” kata musisi Joan Baez, “Memori-memori itu membawa berlian dan karat.” Sepertinya, seseorang pun hanya bisa memilah soal karat dan berlian itu pada saat kini ketika dia berhasil (atau, gagal) mengenali maknanya bagi masa yang akan ia jelang. Masa lalu, boleh jadi, bagi seseorang dianggap akrab namun sesungguhnya belum lah tentu dekat. Filsuf Nietzche punya cara unik untuk menunjukkan perihal masa lalu, katanya:
“Kita telah menata untuk diri kita sebuah dunia yang di dalamnya kita dapat hidup melalui penerimaan benda, garis, bidang, sebab dan akibat, gerak dan perhentian, bentuk dan isi; tanpa karangan atas keyakinan ini semua, tidak ada satupun orang yang barangkali bertahan hidup. Tapi itu tidak membuktikan [kebenaran] mereka. Hidup itu bukan argumen. Barangkali, dalam hidup juga terdapat kekeliruan.” (Nietzche, 2020:180)
Seperti semufakat dengan pandangan Nietzche, Ugo Untoro pun mengembangkan cara-cara penerimaan dirinya mengarungi perjalanan hidup. Pokok penting pertama yang ia sadari adalah kenyataan, bahwa ‘hidup bukan lah argumen; barangkali, dalam hidup juga terdapat kekeliruan.’ Ugo menghubungkan perjalanan hidup dengan ekspresi karya seninya dengan cara dan gaya yang khas. Kemungkinan besar, Ugo menjalankan apa yang dikatakan filsuf Gilles Deleuze, bahwa ‘sesuatu di dunia telah memaksa kita untuk berfikir. Sesuatu itu bukanlah ‘obyek yang dikenali’ (object of recognition) tetapi justru adalah sebuah ‘perjumpaan yang fundamental’ (fundamental encounter) (Deleuze,1994:139). ‘Obyek yang dikenali’ adalah segala sesuatu yang dianggap telah kita ketahui sehingga segala hal mengenainya telah berada pada tempat atau keadaannya yang dipastikan berdasar pengetahuan, kepercayaan, atau nilai yang telah kita afirmasi sebelumnya. Terhadap segala ‘obyek yang dikenal’ itu kita hanya tinggal mengkonfirmasikan-kembali keadaan atau tempatnya itu berdasar cara pengenalan kita. Masa lalu, atau memori, yang dianggap sebagai susunan dari ‘obyek-obyek atau keadaan-keadaan yang telah dikenali’ berarti adalah sebuah kepastian tertentu yang telah bekukan, atau dipastikan maknanya oleh diri seseorang. Bagi Ugo, memori tidaklah beku selain justru adalah kenangan yang terus hidup dan menghidupkan. Dengan segala resikonya, ia selalu berusaha untuk menemukan memori-memori hidupnya sebagai serial perjumpaan yang terus memberinya misteri dari pesona hidup. Pun pengertian suatu monumen, meski berkaitan dengan masa lalu, tak pernah berhenti hanya untuk memuliakan masa lalu saja. Bagi Deleuze, ekspresi karya seni adalah juga sebuah monumen; namun sebagai monumen, sebuah karya seni bahkan hanya memiliki relasi yang tipis dengan aspek asal-muasalnya. Karya-karya Ugo Untoro, tentu saja, dikerjakan oleh Ugo namun kemudian menjadi terus ‘hidup’ jadi monumen penciptaan bukan karena hanya karena alasan keadaan subyektif Ugo melainkan juga karena caracara penerimaan maupun apresiasi dari seluruh kemungkinan yang dihasilkan oleh publik seni. Sebagai monumen, ekspresi yang kita temukan pada karya-karya Ugo tak berhenti sebagai ‘sesuatu yang bisa dikenali,’ yang secara pasti merujuk pada momen atau keadaan tertentu, selain justru adalah sebuah susunan material ekspresi yang bersifat kompleks dari susunan tonasi warna-warna’ (Deleuze-Guattari, 1994:164). Susunan yang kompleks itu menjelaskan kesempatan perjumpaan yang bersifat fundamental. Sebuah perjumpaan yang terbuka untuk terus bisa dikenali karena mengandung berbagai kemungkinan. Perjumpaan dalam ekspresi karya-karya Ugo memang tak secara langsung menunjukkan keadaan tentang ‘hal ini dan itu,’ atau mengenai sesuatu yang terungkapkan secara jelas dan logis. Bagi Ugo, memori masa lalu selalu memiliki jarak terhadap dirinya sehingga mustahil bisa direngkuh secara penuh. Bagi saya, sikap Ugo adalah monumental justru karena keteguhan dirinya untuk menghadapi memori-memori itu sebagai keadaan ‘sebagaimana adanya’: apakah berlaku sebagai kilauan batu berlian atau pun sayatan lapisan-lapisan karat. Melalui ekspresi seni, Ugo mengajak kita menyusuri memori-memori dirinya menuju sebuah teritori yang asing, yaitu cara khas menghadapi pengalaman masa yang akan kita jelang.

Lukisan dan Tegangan Garis

Ugo menyusun ekspresi karya-karyanya untuk menarik kita menyaksikan skema pertemuan dari kumpulan ekspresi garis-garis. Ugo Untoro bukan lah seorang pelukis colorist, juga bukan pelukis yang tenang dengan cara menyusun komposisi bidangbidang lukisannya secara seimbang. Lukisan-lukisan Ugo lebih sering justru menghidupkan pola komposisi bidang yang bersifat kritis atau tegang, menyisakan ruang-ruang kosong yang menantang dan penuh misteri. Kekuatan wujud garis menjadi bagian terpenting dari ekspresi lukisan-lukisan Ugo. Garis menjadi unsur penciptaan bentuk-bentuk tertentu yang bisa kita kenali, atau garis bahkan jadi ilusif berlaku sebagai elemen utama dari kehadiran ‘bentuk’ asing tertentu (ketika ‘bentuk’ itu tak bisa kita kenali secara pasti). Ekspresi garis itu sering kali muncul sebagai wujud ekspresi ‘ketunggalan’: nampak sendiri dan mandiri. Namun Ugo tak pernah menganggap caranya memperlakukan kekuatan ekspresi garis-garis itu sebagai sesuatu yang ia anggap ‘esensial.’ Ugo menghindari tema pembicaraan tentang hal-hal yang dianggap atau dikultuskan sebagai Yang esensial. Baginya, garis-garis itu muncul sebagai susunan dari ‘kebutuhan dan keadaan yang mendesak’ (necessity and urgency) yang paling penting untuk diekspresikan. Kekuatan garis tak hanya muncul sebagai unsur kekuatan pembentuk tapi juga jadi ungkapan dari sifat ‘kedalaman’ yang justru ditunjukkan dalam wujudnya sebagai sapuan bidang-bidang garis tebal: nampak sebagai alur garis-garis dalam sapuan kuas (brushstroke) yang nampak liar dan tak terduga. Tidak ada bentuk dan wujud garis yang terlihat sama, bahkan ketika menyatakan kesatuan bentuk tertentu pun setiap garis masing-masing ada dalam tingkat-tingkat perbedaan tertentu. Ini lah wujud dari cara penerimaan kita terhadap ‘benda, garis, bidang, sebab dan akibat, gerak dan perhentian, bentuk dan isi,’ yang menggambarkan situasi gerak hidup manusia. Segala sesuatu terjadi, dalam pengalaman hidup kita, muncul sebagai suatu keterkaitan antara satu hal dengan yang lainnya dalam aturan-aturan perbedaan: berbeda dalam tingkatan, tempo, tegangan, potensi, atau intensitas (Deleuze, 1994:222). Kita tak akan pernah bisa memisahkan satu peristiwa dalam hidup kita dengan peristiwa lainnya, kita hanya akan bisa melihat perbedaan satu dengan lainnya dalam intensitas dan potensinya. Sebuah keadaan menjadi pengalaman tentang nilai yang positif atau negatif justru karena kaitannya terhadap keadaan dari persitiwa lainnya yang kita alami secara berbeda. Kekuatan ekspresi garis-garis Ugo Untoro tak lain ibarat resonansi atas keadaan hidup yang berlaku semacam itu. Lukisan-lukisan Ugo juga tak jarang dikenali secara simbolik, coba digali maknamaknanya melalui susunan ekspresi bentuk yang bersifat representasional, misalnya: tentang simbol-simbol kuda, anjing, manusia, pohon, batu, rumah, atau tentang gambaran-gambaran yang lainnya. Karya-karya itu pun diterangkan ibarat obyek-obyek budaya yang mengandung simbol-simbol tertentu. Tentu saja, karya seni rupa adalah juga sebuah obyek budaya, tetapi juga bukan hanya itu. Karya seni rupa terutama adalah wujud sebuah janji mengenai komentar dan bentuk-bentuk keadaan yang infinit, menjadi janji dari komunitas perasaan yang terekspresikan dalam kemungkinan-kemungkinnya yang tak terbatas. Karya seni rupa merupakan pelabuhan dari berbagai wujud keberlimpahan, retakan-pemisahan, atau berbagai potensialitas hidup lainnya yang tak mampu terlingkupi oleh aturan-aturan cara produksi dan penerimaan masyarakat yang bersifat umum atau berlaku standar (Lyotard 1989: 93). Secara simbolik, lukisan-lukisan Ugo Untoro sering kali dianggap sebagai aneh atau tidak biasa; karya-karya itu tak jarang bahkan dianggap ‘tidak selesai’ berdasarkan kebiasaan umum dalam cara mengenali sebuah karya lukisan. Ugo tidak pernah menganggap ekspresi sebuah karya menjadi ‘selesai atau tidak’ berdasar aturan atau kebiasaan yang dilumrahkan; ia menyatakan karya-karyanya berdasarkan prinsip pemahaman dirinya yang khas atas ‘kebutuhan dan keadaan yang mendesak’ yang penting untuk diekspresikan. Kekuatan ‘simbolik’ karyakarya Ugo Untoro, pada kenyataannya, bukan hanya ada di dalam lukisannya saja tapi juga adalah seluruh wujud pernyataannya sebagai sebuah lukisan.

Enigma Ruang

Ugo Untoro bukan lah seorang pelukis Symbolist atau Colorist, ia menciptakan susunan bentuk dan permainan tonasi warna-warna berdasarkan urgensi kebutuhan yang mendesak untuk diekspresikan menurut ‘aturan’ dirinya. Ugo pun, sepertinya, juga tak pernah berhenti dengan satu lingkup gagasan tertentu yang dipastikan; ide-ide ekspresi seninya sering muncul secara spontan dan bergerak hidup atas dasar interaksi dan pertemuan dirinya dengan berbagai peristiwa hidup. Seni, memang, bisa dikenali sebagai peristiwa interaksi atau perjumpaan, sebagai afek (affect) atau hasil pertemuan dari satu tubuh pengalaman dengan tubuh pengalaman lainnya secara menerus. Meskipun sebuah karya seni rupa adalah sebuah obyek (budaya) namun dalam prakteknya terutama adalah suatu hasil dari ‘prinsip keberpaduan yang bersifat internal’ (a principle of internal cohensiveness) dalam ekspresi karya itu sendiri. Seni dalam dirinya sendiri adalah semacam kesatuan ‘gugus afektif’ (affective assemblage), atau lingkup cara penerimaan perasaan yang tidak terbatas (O’Sulivan, 2006 :52-53). Dalam cara memahami semacam ini maka kita bisa mengenali ruang-ruang kosong atau ruang-ruang berulang dalam lukisan-lukisan Ugo Untoro sebagai tata cara komposisi bidang ruang yang berkaitan dengan pengalaman hidup yang bermakna tak terbatas. Kekosongan ruang pada kenyataannya jadi bermakna sebagai ruang berisi bagi ‘hal-hal yang tak mungkin bisa ternyatakan.’ Kepadatan dari keadaan ruang yang berulang pun kadang bisa dirasakan sebagai runtunan ‘peristiwa jeda’ yang memaksa terus hadir untuk diterima. Penggambaran ruang dalam lukisan-lukisan Ugo Untoro tak lain adalah aneka perisitiwa ruang yang sarat dengan enigma, memaksa kita untuk menemukannya dalam kontradiksi perasaan yang tidak bisa dipastikan. Ekspresi lukisan-lukian Ugo itu menjelaskan keadaan seni sebagai sebuah susunan komposisi dari berbagai persepsi (percepts) dan afek (affects) melampaui cara penerimaan (persepsi) dan reaksi perasaan (afeksi) yang biasa- biasa saja, atau bersifat umum. Sang seniman (Ugo Untoro) adalah seseorang yang menambahkan berbagai jenis atau campuran reaksi perasaan seseorang secara tidak terbatas, sebagai ritme perasaan manusia yang terus terbarukan dalam pengalaman menghidupi dunia (Deleuze-Guattari, 1994:168). Perasaan kita yang akan terus terbarukan itu, dalam kenyataannya, justru muncul dari keadaan ‘keterpisahaan’ (apartness) kita terhadap pengalaman kehidupan sehari-hari biasa saat kita menghadapi perjumpaan yang bisa terasakan fundamental di hadapan ekspresi karya seni, semacan lukisan-lukisan Ugo Untoro. Ekspresi ruang dalam lukisan-lukisan Ugo Untoro adalah batas bagi kehadiran [komposisi] kekuatan ekspresi garis; kehadiran ruang itu juga adalah batas dari sebuah kehadiran teritorial asing, atau wilayah perasaan yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Ugo Untoro hingga kini terus menghidupkan cara-cara khas dirinya untuk menghubungkan pengalaman peristiwa dan memori dirinya sebagai kemungkinan pertemuan yang bersifat fundamental dari seni dengan pemikirannya tentang hidup. Ugo Untoro tak pernah menyimpulkan berbagai memori mengenai pengalaman hidupnya; pun ia tak jera untuk terus menghadapinya—baik sebagai cemerlang batu berlian atau beban karat yang mampu menyayat. Melalui seni, Ugo terus menghidupkan memori (masa lalu)nya dengan kesadaran penciptaan di masa kini. Namun demikian, bagi saya, kekuatan penciptaan yang dilakukan Ugo justru bukan dinyatakan demi untuk merayakan gempita keadaan masa kini (contemporaneity). Ia justru mengembara dalam wilayah asing yang secara ambivalen terus berusaha menghubungkan masa lalu dan masa nanti menjadi sebuah ‘kebutuhan dan keadaan penting yang mendesak.’ Ugo Untoro selalu berada di teritorial yang asing itu; pertanyaannya: Apakah anda pernah ke sana?

Related Writings

View All