Sakramen Hujan

Melukis Rintik yang Menolak Kering

By Sudjud Dartanto • Curatorial Essay •2025
Sakramen Hujan

Dalam setiap rintik hujan yang jatuh, terkandung sebuah janji: tentang pembaharuan, tentang kehidupan yang tak henti mengalir, dan tentang keteguhan yang menolak kering. Demikianlah kiranya, tulisan tentang pameran tunggal Ugo Untoro kali ini saya beri judul: “Sakramen Hujan: Melukis Rintik yang Menolak Kering,” bukan sekadar tajuk, melainkan sebuah undangan kontemplatif setelah beberapa kali melakukan serangkaian percakapan dengannya. Hujan, bagi Ugo adalah sebuah metafora yang dalam, sebuah pemanggil ingatan akan siklus abadi yang mengikat seni dan eksistensi. Di dalamnya, kita diajak menyelami paradoks hujan dengan rintiknya yang menolak kering sebuah curahan vital yang tak berkesudahan, melawan segala bentuk stagnasi dan kekeringan jiwa.

Ugo Untoro, yang kita kenal lebih dari sekadar pelukis, ia seorang pencari. Perjalanannya adalah sebuah pencarian mendalam akan otentisitas dan makna, sebuah mikrokosmos pengalaman manusia universal yang tak lekang oleh waktu. Ia adalah petualang yang mencari sakral dalam keseharian, yang abadi dalam yang fana. Esai ini, dengan demikian, tidak bermaksud memberikan jawaban pasti. Melalui penjelajahan ini, kita berharap dapat menyelami lapisan-lapisan pemikiran Ugo, dengan keseharian dan cerita hidupnya yang terus-menerus menolak untuk mengering, selalu mencari sumber baru untuk mengalirkan kehidupannya. Kata “Sakramen” mengangkat tindakan melukis ke ranah ritual, menyiratkan makna spiritual yang lebih dalam melampaui sekadar estetika visual. “Hujan” melambangkan pembersihan, pembaruan, dan aliran inspirasi serta kehidupan yang tak terputus. Sementara “Menolak Kering” adalah sebuah pernyataan perlawanan aktif terhadap stagnasi artistik, atau kekeringan spiritual. Judul ini ingin menandai fase berkarya Ugo pada pameran ini, yakni pencarian akan pengisian kembali dan otentisitas. Ini adalah sebuah upaya untuk terus-menerus membasahi kanvas kehidupannya dengan tetesan-tetesan makna yang segar, menolak untuk berhenti atau mengering dalam kemapanan.

Kepulangan: Akar Ingatan yang Membasuh

Kepulangan Ugo Untoro ke Purbalingga pada beberapa waktu lalu, ke kampung halamannya, bukanlah sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah inisiasi. Ia adalah tetesan pertama, “rintik” awal dari hujan metaforis yang seakan membasahi kembali jiwa dan karyanya. Alasan kepulangan itu begitu nyata: ibundanya yang kian sulit berjalan, memanggilnya untuk menunggui. Namun, di balik alasan yang konkret itu, tersimpan pula kebutuhan pribadi akan ‘healing’ setelah sakit, ungkapnya, penyembuhan setelah sakit, sebuah kehausan yang hanya dapat dipuaskan oleh akar-akar yang lama terlupakan. Di rumah ibunya, Ugo menemukan kembali jangkar-jangkar ingatan yang kuat. Barang-objek lamanya, yang masih disimpan rapi oleh sang ibu”sarung, buku, bokor tembaga untuk memandikan saat bayi ku, juga kendil” bukanlah sekadar benda mati. Mereka adalah fragmen kenangan, potongan-potongan masa lalu yang hidup, yang seketika membangkitkan perasaan mendalam: “aku merasakan rumah lagi!” Benda-benda ini berfungsi sebagai saluran yang menghubungkannya kembali dengan diri primal, membebaskannya dari tuntutan performatif dunia seni rupa Jogja yang ia tinggalkan untuk sementara saat itu. Kepulangan ini, secara mendalam menjadi katalis bagi penyembuhan pribadi, semacam kalibrasi ulang.

Dalam suatu percakapan, pertanyaan Ugo menggema, “aku harus pulang kemana ya?”, ia mengangkat kepulangan fisiknya menjadi pencarian eksistensial yang lebih dalam akan rasa kehilangan, bukan sekadar jati diri atau identitas. Ini adalah pertanyaan yang tidak menuntut jawaban tunggal, melainkan mengundang perenungan. Di Purbalingga, jauh dari hiruk pikuk seni rupa Jogja, Ugo menemukan ketenangan yang telah lama hilang. Di Jogja, keasikan melukis yang intrinsik telah tergerus oleh tekanan eksternal. Kepulangan ini adalah jeda, penarikan diri yang esensial, sebuah “pengeringan” dari hal-hal superfisial agar inspirasi sejati dapat kembali mengalir. Penarikan diri awal ini adalah rintik krusial dari “hujan,” yang memulai proses pengisian vital. Dalam jejak kepulangan ini, Ugo juga menemukan kembali benang merah yang menghubungkannya dengan warisan artistik keluarganya. Ia mengenang bagaimana kakeknya yang seorang dalang, ia kaitkan dengan seri wayang yang pernah ia kerjakan dalam karyanya. Adiknya, yang menempati posisi istimewa dalam ingatannya, tidak hanya jago menggambar tetapi juga mewarisi keterampilan menggambar wayang. Ugo sendiri, yang akrab dengan kisah-kisah cerita rakyat seperti ‘Kancil Mencuri Timun’, memiliki pandangan unik tentang wayang: “menonton wayang yang bagus itu dari belakang.” Ia mengenang bapaknya yang cukup kritis terhadap penggambaran wayang jika kurang dalam aspek teknis. Ini menunjukkan bahwa latar awal dan pemahaman Ugo tentang prinsip rupa, anatomi, filosofi gestur tubuh, bayangan, dan karakter telah terbentuk sejak dini, jauh sebelum ia memasuki dunia seni formal, berakar pada tradisi dan pengamatan kritis dalam keluarganya.

Kepulangan Ugo ke Purbalingga menandai, salah satunya pergeseran dalam cara kerja melukis dan filosofi artistiknya, tidak semua, ada yang hadir secara realis! Secara prinsip, Ia kerap menolak “style” yang tetap, sebuah penolakan yang dikuatkan oleh reaksi teman-temannya di Jogja yang berseru, dudu Ugo iki (ini bukan Ugo) pada saat melihat lukisannya yang realis. Ugo sendiri menegaskan, “dari pertama aku tidak pernah mempersoalkan style.” Gagasannya mengalir dan bereaksi terhadap situasi daripada terpaku pada rencana ketat. Ini adalah sebuah penolakan untuk terperangkap dalam identitas yang mapan, sebuah tindakan berkelanjutan untuk “menolak kering.” Ugo menyatakan, “aku melukis bukan untuk siapapun, apa adanya.” Pernyataan ini adalah sebuah manifesto. Ia menyiratkan bahwa kebebasan yang dipersepsikan dalam dunia seni justru dapat menjadi bentuk batasan lain. Di sana, seniman mungkin merasa terdorong untuk mempertahankan “gaya” yang mudah dikenali atau memenuhi tuntutan pasar.

Kepulangan Ugo berfungsi sebagai katalis, membebaskannya dari tekanan-tekanan halus ini, memungkinkan mode kreasi yang lebih otentik, dan berorientasi pada penghayatan pada dunia simbolis isi rumah dan sekitarnya. Ini adalah pembebasan dari ekspektasi eksternal, sebuah kembali pada motivasi intrinsik untuk berkarya. Ugo menolak untuk “menjajah” kebiasaan lamanya saat ia melukis di kampung halamannya, dan membekas saat ia kembali ke Jogja. Inspirasinya bergeser menuju objek-objek sederhana di rumah ibunya teras, meja, kamar, diantaranya. Namun, ini bukanlah penolakan terhadap imajinasi, melainkan sebuah penanaman kembali: “belum apa adanya total sih, misal aku masih melakukan imajinasi atas lantai yang kubayangkan dipenuhi genangan air.” Imajinasinya bermain di atas hal-hal biasa, mengubah yang lumrah memiliki daya getar dalam jarak dekat. Pergeseran sumber imajinasi dari tema-tema eksternal: ke genangan air, kamar, buku, telpon rumah lama sebagai objek biasa yang biasa, namun mendalam menandakan bentuk kreativitas yang lebih dalam dan membumi. Di sini saya melihat “rintik-rintik” kehidupan sehari-hari menjadi lahan subur bagi eksplorasi artistiknya.

Dalam perbincangan, terungkap kecintaan Ugo pada komik juga membentuk pandangannya tentang narasi dan karakter. Ia mendalami bahasa spontan dalam komik dan karakter-karakter dari komikus seperti Ganes TH, Jan Mintaraga, terutama pada kekuatan penggambaran tubuh, Teguh Santosa, tentang antara dunia nyata dan gaib. Baginya, “komik itu seperti adegan film, mengajarkan irama dan memiliki kekuatan yang membuat kita penasaran.” Ketika ditanya apakah “life story”-nya seperti dunia komik, ia menjawab, “kita belajar tentang petualangan!”. Tidak mengherankan jika rumah, jendela, pintu, dan studio Ugo dibangun menyerupai rumah dunia dongeng, seperti rumah puri atau kastil. Meskipun ia mengakui mengalami kesedihan dan penderitaan, Ugo sebenarnya menghindari penggambaran tentang penderitaan, hanya mungkin suasana itu yang memengaruhi karyanya. Dalam dunia film, ia menyukai sutradara Tim Burton dan Quentin Tarantino, yang menunjukkan ketertarikannya pada sekuen yang tak terduga, unik dengan visual yang kuat. Ugo juga mengungkapkan proses kerjanya: melukis saat pagi sampai siang, ia tidak biasa jika melukis di malam hari. Ia juga tidak bisa melukis saat sepi; minimal harus ada suara di sekelilingnya, karena sejak kecil ia terbiasa mendengar suara-suara, rasanya seperti disuntik inspirasi jelasnya. Ia mengenang saat Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ Sekolah Menengah Atas (SMA) telah melihat referensi karya pelukis realisme sosial S. Sudjojono yang kasar dan ada teks di dalamnya, yang berbeda dengan pelukis ‘Mooi Indie’ Basuki Abdullah. Itu menunjukkan preferensinya pada ekspresi yang lebih mentah dan langsung.

Pada pameran tunggal ini, Ugo menampilkan puluhan karya, didominasi oleh medium cat minyak di kanvas. Karya-karya ini, sebagian besar dibuat pada tahun 2025 yang menunjukkan keberanian dalam eksplorasi. Pengecualian pada “Pieta Series” tahun 2024 yang dibuat dengan pulpen di kotak rokok, sebuah pilihan material yang sangat berbeda dan sarat makna. Karya ini, bersama dengan “Pieta Series” lainnya yang menggunakan cat minyak di kanvas, menunjukkan eksplorasi mendalam Ugo terhadap tema pengorbanan, merekontekstualisasikannya ke dalam konteks sehari-hari, bahkan yang bersifat sekali pakai. Ukuran karya-karya Ugo bervariasi, namun banyak di antaranya berdimensi besar, seperti 150 x 200 cm dan 200 x 150 cm, menyiratkan potensi untuk komposisi yang imersif dan monumental. Kanvas yang luas ini memungkinkan Ugo untuk menciptakan ruang yang dalam, perspektif yang terfragmentasi, atau bidang warna yang luas, yang dirancang untuk menarik penonton secara fisikdan emosional. Kehadiran karya-karya berukuran lebih kecil, seperti “Bapak Telpon” (60 x 80 cm) atau “Tumpukan Lupa #03” (90 x 70 cm), menunjukkan permainan yang disengaja antara keintiman dan keagungan, yang berpotensi mengubah kedekatan dan keterlibatan penonton.

Judul-judul karya Ugo sangat beragam, mencakup spektrum luas dari yang sangat domestik dan sehari-hari seperti “Bapak Telpon,” “Di Atas Buffet,” “Makan Pagi,” dan “Teras Belakang,” hingga yang berhubungan dengan alam dan fenomena cuaca seperti “Di Tengah Hujan,” “Hujan Lagi,” “Morning Rain and the Blind Man #02,” dan “Tumpukan Hujan.” Judul-judul ini, terutama yang terkait dengan hujan, menyiratkan penggunaan warna-warna pastel. Ugo juga secara eksplisit mereferensikan sejarah seni Barat dalam karyanya, seperti “Penunggang Kuda Arab Diserang Singa Setelah Eugene Delacroix” dan “Potato Eater After Van Gogh.” Ini menunjukkan praktik intertekstual, di mana Ugo terlibat dengan warisan seni lukis modern Barat, mungkin mempertanyakan narasinarasinya, membayangkannya kembali dari perspektif kontemporer atau Indonesia, atau sekadar merayakan karya-karya agung melalui lensa uniknya sendiri. Juduljudul lain seperti “Good Night…”, “Scream,” “Man in The Rain,” “Ternyata Bukan Pegasus,” dan “Tumpukan Lupa #03” menyelami wilayah yang lebih abstrak, introspektif, atau sarat emosi. “Scream” secara langsung membangkitkan ingatan kita pada perupa Edward Munch, menyarankan tema kecemasan atau kegelisahan eksistensial, sementara “Ternyata Bukan Pegasus” barangkali menyiratkan kekecewaan dengan cita-cita mitos atau subversi narasi besar.

Pada karya “Tiang Baru” tahun 2023, yang disusun menjulang, Ugo mengeksplorasi proses evolusi anatomi, kekuatan tubuh, perubahan tubuh, daya tahan, dan kebudayaan yang dibentuk secara instan. Karya ini dilubangi dan diletakkan di atas ‘tumpak’. Ugo seperti kita tahu, kerap bekerja dengan berbagai media, dari video hingga instalasi. Ketika pulang kampung, ia melukis dengan objek yang ada saja, merasa bahwa objekobjek itu seperti “memanggil” dirinya. Objek-objek ini muncul secara organik dari proses spontannya, bukan sebagai subjek yang direncanakan. Penggemar karya Ugo barangkali kerap mengalami sensasi ‘mabuk’ visual, hal ini terjadi karena rasa bentuk adalah penting baginya. Melalui sanggar/sekolah seni rupa L’ASRI yang dibentuknya, kita dapat mendengarkan ‘ideologi rasa’ ini. Ugo ingin mengembalikan prinsip tentang praktik sketsa yang spontan, mendorong “lukis on the spot” untuk merasakan rasa panas, rasa bau, rasa sore, rasa malam, rasa sepi, rasa ramai, dan lain sebagainya guna memperkaya kepekaan seseorang. Baginya, melukis adalah kerja total, di mana pikiran, hati, perasaan, dan wawasan menjadi satu dan bergulat langsung dengan media. Dalam suatu percakapan, dikatakannya bahwa realitas sosial, seperti persoalan bansos (bantuan sosial), atau gagal panen di kampung halamannya, secara tak sadar meresap ke dalam lukisannya. Ini mungkin termanifestasi sebagai warna kusam, namun Ugo menegaskan bahwa itu bukan bermaksud simbolisasi. Sebaliknya, itu adalah keterlibatan yang dirasakan secara mendalam, sebuah empati terhadap ikatan-ikatan emosional dalam berbagai jenis hubungan sosial di kampung halamannya. Sekali lagi, itu bukan komentar politik yang terang-terangan, melainkan resonansi dari denyut kehidupan sehari-hari yang ia saksikan. Seni Ugo hidup dan mengalir, mewujudkan esensi “hujan yang menolak kering,” terus-menerus memperbarui dirinya dari sumber-sumber yang paling otentik.

Dalam inti karya Ugo Untoro, terdapat prinsip-prinsip yang melampaui sekadar teknik atau subjek. Ia menyoroti garis sebagai elemen yang paling ia rasakan, kuasi, dan nikmati, bahkan mengungguli praktik mewarnai. Penekanan pada garis ini adalah sebuah kembali pada bahasa artistik yang fundamental, menanggalkan hal-hal superfisial untuk mencapai esensi, mirip dengan esensi yang dicari dalam praktik spiritual. Ini menunjukkan fokus pada struktur, ekspresi mentah, dan bahasa artistik yang lebih primal. Ketepatan bahasa rupa baginya penting, bahkan tidak semuanya harus menggunakan seni lukis, kalau dipaksakan bisa tidak jadi, ini mengindikasikan fluiditas radikal dalam pendekatannya terhadap apa yang disebut ‘seni’. Ia juga mengenang almarhum perupa S. Teddy D yang dianggapnya mengalami kepesatan dalam penemuan karakter garis, menunjukkan apresiasinya terhadap penguasaan elemen fundamental ini.

Ugo tidak hanya seorang perupa; bagi saya ia intelektual, ia mengagumi, antara lain para pelukis modern: Paul Klee, Nashar, dan S.Sudjojono. Ia juga sangat senang mendapat didikan langsung dari guru-guru di FSR ISI Yogyakarta yang dulu hanya dikenalnya lewat koran, seperti Aming Prayitno, Nyoman Gunarsa, Subroto SM, dan Soedarso SP. Ia misalnya mengenang Soedarso SP yang asik, bahkan pernah memberi nilai akademik A bagi siapa pun yang bisa menyanyikan lagu ‘Stary Night’ untuk mengajarkan sejarah seni rupa dalam mengenal Van Gogh. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana Ugo menghargai pendekatan holistik dan personal dalam pendidikan seni. Namun, yang lebih krusial adalah hubungannya yang mendalam dengan sastra. Kecintaannya pada puisi telah ada sejak Sekolah Dasar (SD), membeli buku-buku sastra, seperti Chairil Anwar atau Sutarji Calzoum Bachri, dan bahkan menciptakan puisinya sendiri ketika sulit menemukan buku para pengarang terkenal itu di kotanya. Ugo menyukai puisi dan sastra yang hanya menggunakan “beberapa kata tapi dalam,” ujarnya, sebuah preferensi yang mencerminkan kedalaman pemikirannya. Resonansi kuat ia temukan dalam tulisan sastrawan Omi Intan Naomi mengenai biografi seninya yang baginya terasa seperti membaca dirinya sendiri. Pengaruh artistik dan sastra ini bukan sekadar preferensi estetika, melainkan teman intelektual dan spiritual dalam perjalanannya, menunjukkan bagaimana berbagai bentuk ekspresi menyatu dalam proses kreatifnya. Kepulangan ke kampung halaman mengintensifkan perjalanan spiritualnya.

Walau Ia mengakui rindu pada hal yang spiritual, tetapi ini bukan kesalehan yang dangkal, melainkan sebuah keinginan tulus untuk mendalami hal yang mendasar. Perjalanan spiritual ini, yang berakar pada kepulangan dan ikatan leluhur, disajikan sebagai sumber terdalam kreativitasnya. “Ada yang belum selesai antara aku dengan Tuhan dan semesta”, ujarnya saat pulang: menyiratkan keadaan penyelidikan abadi dan penerimaan terhadap ambiguitas inheren dalam kehidupan. Aspek “belum selesai” ini menarik; ia menyiratkan proses yang berkelanjutan, pertumbuhan, dan penolakan untuk stagnan atau mengering. Barangkali di sinilah “sakramen” termanifestasi, karena tindakan artistik menjadi ritual spiritual, sebuah keterlibatan berkelanjutan dengan yang mendalam. Kesenian, sastra, dan spiritualitas membentuk “genangan air” yang kaya bagi imajinasinya, memastikan hujan tak pernah berhenti.

Hujan yang Merebut Kembali Ruang Personal & Kemanusiaan

Terkait dengan judul karya, Ugo mengakui bahwa ia bisa saja tidak memberi judul dan membiarkannya “untitled,” tetapi jika memungkinkan, judul bisa muncul sebelum atau setelah karya selesai. Bagi Ugo, judul itu penting, terutama dalam penempatan di mana karya itu akan berada. Proses pemberian judul ini terjadi secara otomatis baginya, dan ia tidak menyukai judul yang terlalu verbal. Bahkan, bisa jadi saat Ugo berkarya, ia bisa aktif menulis puisi, seolaholah prosesnya mendapat ilham banyak, menunjukkan bagaimana berbagai bentuk ekspresi artistik saling terkait dan mengalir dalam dirinya. Filosofi Ugo Untoro, yang kini terungkap, adalah sebuah pernyataan yang kuat tentang ketahanan artistik dan penerimaan diri. Ia menekankan untuk melihat kekuatan dalam mengatasi kelemahan, “kita berangkat dari apa yang kita punya, dan berani mengungkapkan!” Ini adalah seruannya untuk berani dalam mengekspresikan diri yang otentik, terlepas dari tren eksternal. Ugo dengan jujur mengakui tidak mengerti jika ia diletakkan pada ranah seni kontemporer dan menyatakan tujuannya dengan jelas: “aku melukis, tidak menghias”, ini memperkuat komitmennya pada ekspresi yang mentah dan tanpa hiasan, di atas estetika superfisial atau upaya untuk menyesuaikan diri dengan kategori sejarah seni. Ugo menyatakan, “dalam melukis aku luruh,” sebuah ungkapan yang mendalam tentang penyerahan diri total pada proses kreatif. Ia percaya bahwa dalam melukis, seseorang pasti bertahan karena ada “sisi manusianya yang besar,” dan orang tidak akan meninggalkan sisi kemanusiaan. Hal ini terkait dengan perbicangan kami mengenai problem keterasingan oleh modernitas, representasi dan cara merebut kembali intimitas dengan alam dan kehidupan, yang bagi Ugo menyangkut perebutan atas wilayah personal. Barangkali itu yang Ia maksud dengan makna ‘gelut’ (duel) saat menciptakan karya seni. Ia menegaskan, “aku bukan menolak industrialisasi, tapi karya seni adalah wilayah yang kita alami dan tidak dapat diganggu, walau kelihatan lemah atau kurang bagus, itu adalah wilayah personal, ujarnya.” Dalam wilayah personal ini, baginya terdapat sisi perenungan, kebebasan, kejujuran, harapan.

Pameran Ugo kali ini mengingatkan kita pada kekuatan romantik dalam menegasi artifisial kehidupan yang kian dibentuk oleh industrialisasi. Romantikisme, sebagai gerakan seni dan filosofi yang muncul sebagai reaksi terhadap rasionalisme ‘Pencerahan’ dan dampak Revolusi Industri, menekankan emosi, individualisme, glorifikasi masa lalu dan alam, serta keindahan dalam hal-hal yang tidak sempurna. Seniman Romantik seringkali mencari keintiman dan otentisitas yang hilang dalam hiruk-pikuk modernitas. Ugo, dalam semangat ini, mencari keintiman lagi, tidak selalu dalam gambaran tragedi besar seperti yang dilukis oleh Delacroix saat terjadi revolusi industri di Eropa—karya seperti “Liberty Leading the People” yang menggambarkan semangat revolusioner—tetapi pada estetikasi kehidupan sehari-hari yang dihadirkan dengan kekuatan puitik. Ini semacam romantikisme yang membumi, yang menemukan epik dalam yang biasa, yang sakral dalam yang profan. Melalui kekuatan puitik ini, Ugo menghidupkan objek sehari-hari, membuatnya hadir dengan kekuatannya sendiri. Ini dapat terjadi karena Ugo sebagai seniman menempatkan dirinya dalam keadaan sublim dengan objek-objek yang bermakna pada kehidupan dirinya. Konsep “sublim” di sini dapat dipahami dalam konteks filsafat Immanuel Kant, di mana pengalaman sublim adalah pengalaman akan sesuatu yang melampaui pemahaman rasional, yang membangkitkan rasa takjub dan kekaguman, bahkan mungkin sedikit ketakutan, namun pada akhirnya mengangkat jiwa. Bagi Ugo, objekobjek sederhana seperti teras, mangkok, atau aksentuasi genangan air, melalui proses “luruh” dan penghayatan mendalam, diangkat ke tingkat sublim, menjadi lebih dari sekadar representasi, melainkan manifestasi dari pengalaman eksistensial.

Mengapresiasi karya Ugo tidak cukup hanya dengan visualnya, tetapi juga dengan kekuatan puitik pada juduljudulnya. Keduanya dapat lahir secara bersamaan, atau judul dulu, atau visual dulu, menunjukkan fleksibilitas dan kedalaman proses kreatifnya. Judul-judul ini bukan sekadar label, melainkan pintu gerbang menuju lapisan makna yang lebih dalam, serupa dengan puisi yang padat namun sarat makna. Pada seri hujan (“Di Tengah Hujan”, “Jalan Desa”, “Hujan Lagi”, “Tumpukan Hujan”, “Morning Rain and the Blind Man #02”, “Pagi Basah, Kamar Gelisah”): judul-judul ini secara eksplisit menempatkan hujan sebagai motif sentral, bukan sekadar fenomena meteorologi, melainkan sebuah entitas yang sarat makna. Jika melihat “Di Tengah Hujan” kita dapat membayangkan Ugo saat melihat curahan air deras yang jatuh menerpa jalan depan rumahnya, ini bukan dalam keputusasaan, melainkan dalam penerimaan, bahkan mungkin pemurnian. Visualnya bisa jadi didominasi oleh sapuan kuas yang mengalir, warna-warna pastel yang disebutkan Ugo, menciptakan atmosfer melankolis, namun menenangkan. Barangkali ini adalah gambaran tentang panta rhei Heraclitus, bahwa segala sesuatu mengalir dan berubah, dan dalam aliran itu terdapat kebenaran eksistensi. Pada “Hujan Lagi” bisa jadi pengulangan siklus, sebuah keabadian yang tak terhindarkan, dengan visual yang mungkin lebih abstrak, fokus pada tekstur tetesan air di permukaan kanvas, mengingatkan pada gagasan Gaston Bachelard tentang fenomenologi air sebagai substansi yang mengalirkan imajinasi. Kemudian pada “Tumpukan Hujan” mengisyaratkan akumulasi, bukan hanya air, tetapi mungkin ingatan, emosi, atau pengalaman yang terhimpun seiring waktu, divisualisasikan sebagai lapisan-lapisan warna atau bentuk yang saling menumpuk, menciptakan kedalaman dan kepadatan. Lalu pada “Pagi Basah, Kamar Gelisah” membawa hujan ke ranah personal dan intim, sebuah suasana hati yang meresap ke dalam ruang privat. Kita bisa membayangkan visual kamar yang remang, dengan cahaya pagi yang basah menembus jendela, menciptakan bayangan-bayangan yang gelisah, mungkin dengan objek-objek domestik yang samar-samar terlihat, dibalut oleh palet warna yang diredam, menangkap esensi mood yang mendalam. Sementara pada “Morning Rain and the Blind Man #02” adalah sebuah meditasi tentang persepsi. Bagaimana seorang tunanetra “melihat” hujan? Bukan dengan mata, melainkan dengan sentuhan, suara, bau, dan rasa. Visualnya mungkin akan menekankan tekstur, garis-garis yang mengalir, atau bahkan ketiadaan bentuk yang jelas, mengundang penonton untuk merasakan hujan melalui indra lain, sebuah pengalaman fenomenologis yang mendalam tentang bagaimana realitas dibangun bukan hanya oleh penglihatan, tetapi oleh seluruh indra dan kesadaran, dan hujan!

Pada seri “domestik” (“Di Rumah Tetangga, “Bapak Telpon”, “Di Atas Buffet”, “Makan Pagi”, “Teras Belakang”, “Gentong”, “Mangkok”): Judul-judul ini adalah ode untuk keseharian, mengangkat yang biasa menjadi luar biasa dengan perspektif optik yang dibentuk oleh konstruksi garis tak terduga! “Bapak Telpon” bisa jadi sebuah potret intim, menangkap momen kerentanan atau kehangatan dalam komunikasi jarak jauh, dengan visual yang fokus pada gestur tangan atau ekspresi wajah yang samar, sebuah cerminan dari keintiman yang dicari di tengah hiruk-pikuk modernitas. “Di Atas Buffet” dan “Makan Pagi” mungkin menampilkan benda-benda mati yang hidup, piring, gelas, sisa makanan, yang melalui sapuan kuas Ugo menjadi saksi bisu ritual harian, sarat dengan narasi tak terucap. Visualnya bisa jadi memanfaatkan ukuran kanvas besar untuk memberikan monumentalitas pada objek-objek kecil ini, memaksa penonton untuk merenungkan signifikansi mereka, serupa dengan lukisan still life Jean-BaptisteSiméon Chardin yang mengangkat martabat objek seharihari. “Teras Belakang” adalah ruang transisi antara privat dan publik, tempat perenungan atau pengamatan. Kita bisa membayangkan visual yang menangkap cahaya dan bayangan yang bermain di teras, dengan tekstur kasar dinding atau lantai yang terasa nyata, sebuah ruang liminal yang mengundang introspeksi. “Gentong” dan “Mangkok” adalah objek-objek fungsional yang di tangan Ugo menjadi subjek kontemplasi, mungkin dengan fokus pada bentuk, volume, dan tekstur yang kasar namun otentik, mengingatkan pada kesederhanaan hidup di kampung dan keindahan yang ditemukan dalam utilitarianisme.

Sementara pada seri “intertekstual” (“Penunggang Kuda Arab Diserang Singa Setelah Eugene Delacroix”, “Potato Eater After Van Gogh”, “Pieta Series”): di sini, Ugo tidak hanya melukis, tetapi juga berdialog dengan sejarah seni. “Penunggang Kuda Arab Diserang Singa Setelah Eugene Delacroix” adalah reinterpretasi atas karya Romantik yang penuh drama dan eksotisme. Ugo mungkin mempertahankan energi dan gerak Delacroix, namun dengan sentuhan kasar dan spontan khasnya, mungkin dengan distorsi figur atau palet warna yang lebih diredam, mengomentari narasi kolonial atau kekerasan yang tersembunyi dalam romantisisme Eropa. Ini adalah sebuah dekonstruksi visual yang mempertanyakan representasi kekuasaan dan “yang lain.” “Potato Eater After Van Gogh” adalah penghormatan pada realisme sosial dan empati Van Gogh terhadap kaum pekerja. Ugo mungkin menangkap esensi kesederhanaan dan martabat dalam visual yang kasar, dengan fokus pada tekstur tanah atau tangan yang bekerja, mengingatkan pada realitas sosial di kampung halamannya, sebuah homage yang sekaligus menjadi komentar kontemporer tentang perjuangan yang abadi. Pada “Pieta Series,” yang muncul dalam dua medium berbeda: cat minyak di kanvas dan pulpen di kotak rokok. “Pieta” adalah ikon penderitaan dan pengorbanan, sebuah tema yang telah dieksplorasi oleh seniman-seniman besar dari Michelangelo hingga Rodin. Versi cat minyak mungkin adalah eksplorasi yang lebih tradisional namun tetap ekspresif, dengan sapuan kuas yang tebal dan warna yang mendalam untuk menyampaikan bobot emosional. Namun, “Pieta Series” yang dibuat dengan pulpen di kotak rokok adalah sebuah pernyataan yang radikal. Secara visual, ini akan menjadi karya yang rapuh, terfragmentasi, dengan tekstur kasar dari karton rokok yang terlihat jelas. Garis-garis pulpen yang tajam dan mungkin berulang akan menciptakan kesan kerapuhan dan kefanaan. Ini adalah sebuah dekonstruksi ikon religius, menempatkan penderitaan universal ke dalam medium yang paling profan dan sekali pakai. Barangkali ini adalah komentar tajam tentang konsumerisme, limbah, dan bagaimana yang sakral dapat ditemukan, atau bahkan direduksi, dalam kehidupan modern yang serba instan dan materialistis. Visualnya akan memaksa penonton untuk merenungkan kontras yang mencolok antara subjek yang agung dan medium yang rendah, sebuah ironi yang mendalam yang menantang batas-batas estetika dan moralitas kontemporer. Pada karya objek “Tiang Baru” (2023): karya ini, yang disusun menjulang dan dilobangi, adalah sebuah komentar tentang budaya instan dan tubuh manusia. Visualnya berupa tumpukan kotak Indomie yang membentuk struktur monumental. Ini bisa menjadi kritik terhadap bagaimana makanan instan membentuk tubuh dan budaya kita, atau justru sebuah perayaan atas daya tahan tubuh di tengah konsumsi massal. Pemilihan warna pastel mungkin memberikan sentuhan ironis pada subjek yang begitu “pop” dan komersial, menciptakan ketegangan antara estetika yang lembut dan pesan yang tajam tentang konsumsi dan eksistensi.

Kemudian pada karya ‘eksistensial’ (“Scream”, “Man In The Rain”, “Good Night…”, “Ternyata Bukan Pegasus”, “Tumpukan Lupa #03”): judul-judul ini adalah jendela ke dalam lanskap batin Ugo. “Scream” mungkin adalah respons terhadap kecemasan eksistensial, bukan tiruan Edward Munch, melainkan ekspresi otentik dari kegelisahan batin, dengan visual yang terdistorsi atau warna yang intens, sebuah manifestasi dari Angst Kierkegaardian. “Man in The Rain” bisa jadi sosok yang sendirian, tenggelam dalam kontemplasi atau isolasi, dengan visual yang menekankan siluet dan atmosfer, sebuah gambaran tentang keterasingan manusia dalam lanskap urban atau alam. “Good Night…” adalah ungkapan perpisahan atau akhir hari, yang terungkap dramatis dengan gambaran deretan mobil terbungkus dengan genangan air, jejak dari hujan lebat. Gambaran sehari-hari itu tiba-tiba berubah menjadi metafor padat! Bak meditasi tentang kefanaan, tragedi, dan siklus kehidupan. “Ternyata Bukan Pegasus” barangkali adalah kekecewaan terhadap idealisme, sebuah pengakuan akan realitas yang seringkali tak seindah fantasi, dengan visual yang mungkin menampilkan sosok kuda yang tidak sempurna atau sayap yang patah, sebuah alegori tentang ilusi yang runtuh. Sementara pada “Tumpukan Lupa #03” adalah meditasi tentang memori dan kelupaan, mungkin divisualisasikan sebagai lapisan-lapisan yang kabur, fragmen-fragmen yang tersembunyi, atau objek-objek yang samar-samar muncul dari kegelapan, sebuah arkeologi batin atas hal-hal yang terlupakan, mengingatkan pada gagasan Henri Bergson tentang memori dan durasi.

Merasakan, Mengalami, Terlibat

Mengamati karya Ugo membawa kita untuk luruh dalam pengalaman eksistensial dan fenomenologi, sekaligus membawa kita untuk merebut lagi ruang personal kita, dengan apa adanya. Fenomenologi, seperti yang dikembangkan oleh Edmund Husserl dan kemudian diinterpretasikan oleh Maurice Merleau-Ponty, menekankan pentingnya pengalaman langsung dan bagaimana kesadaran kita membentuk realitas. Dalam konteks Ugo, ini berarti bahwa karyanya mengundang kita untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan, mengalami, dan terlibat secara personal dengan objek dan tema yang ia hadirkan. Ini adalah undangan untuk kembali pada “dunia-kehidupan” (Lebenswelt) yang otentik, jauh dari abstraksi dan objektivikasi. Tentu, ini semua didukung oleh disiplin penguasaan pada kosa rupa yang didapat dari petualangan panjangnya. Disiplin ini mengingatkan pada pemikiran para master Zen yang menemukan kebebasan dalam penguasaan teknik yang ketat, atau bahkan pada gagasan Nietzsche tentang “kehendak untuk berkuasa” yang termanifestasi dalam penguasaan diri dan medium. Ugo Untoro, melalui “Melukis Rintik yang Menolak Kering,” mengundang kita untuk menyaksikan sebuah perjalanan yang tak pernah usai. Karyanya, seperti hujan itu sendiri, adalah curahan vital yang tak henti, menolak untuk dibatasi oleh ekspektasi atau definisi, terus-menerus memperbarui dirinya melalui eksplorasi diri yang berani dan komitmen yang tak tergoyahkan pada “rintik-rintik” pengalaman otentik. Ia bak sakramen dari sebuah proses, sebuah pengingat bahwa seni sejati adalah tentang menjalani risiko, seperti yang ia katakan, tentang terus-menerus mengalir, dan tentang keberanian untuk tidak pernah mengering.

Related Writings

View All