Runaway Passenger
8 Ayat Tentang Ugo Untoro
Dunia Ugo Untoro, bagi saya, adalah sebuah ruang maskulin yang diam-diam mungkin saya hindari, menganggapnya sebagai bagian dari kultur kelelakian yang kuat, yang seolah bertentangan dengan posisi saya yang banyak mengamati dan menulis berbagai persoalan dengan perspektif feminis. Maskulin yang saya maksudkan tidak hanya berkait dengan simbol yang lekat dengan dirinya: kuda, tato, boys gank, rokok dan cerutu, atau beberapa hal lain yang dikenal orang sebagai bagian dari kekhasan Ugo Untoro. Lebih jauh lagi, maskulin yang saya tunjuk ini bukan tentang Ugo-nya sendiri, tetapi habitus dan medan seni yang melingkupi diri, praktik atau studionya, sebuah ruang seni yang seperti tak memberi panggung pada perempuan.
Tapi bagi saya, Ketika kemudian kami memulai proses kami, saya meneguhkan diri bahwa proses ini tidak boleh menjadi sebentuk gloritikasi tetapi sebuah upaya untuk saling menemani, dengan sedikit intervensi barangkali, atau melontar referensi. Dunia maskulinnya mesti saya bongkar ulang, sehingga pembacaan saya tidak terjebak atau tidak mengulang cara baca yang cenderung meneguhkan kesenimanan berbasis dunia maskulin ini. Betapa sulit tugas ini. Tapi baiklah, saya kira upaya-upaya ini selalu berharga.
Ugo Untoro adalah seniman dengan paradoks kuat, tetapi sekaligus menunjukkan praktik kesenian yang sangat konsisten di Indonesia. Bagi generasi yang mendengar cerita dari mulut ke mulut, atau yang membaca referensi-referensi karyanya dari berbagai majalah, katalog, atau bacaan lain, dia menjelma menjadi mitos romantis tentang seorang seniman. Mitos tentang personalitas seorang seniman tentu muncul tidak saja karena karya dan pencapaiannya, tetapi dikonstruksi atas pengalaman tertentu tentang dirinya: gaya hidup, habitus, ketenaran dan sebagainya. Romantisisme ini tidak saja muncul dalam konteks lukisan-lukisannya, tetapi juga laku hidupnya sendiri sebagai seniman; bentangan dunia yang ia tawarkan, perasaan-perasaan ganjil yang ia munculkan, dialog-dialog konyol yang sesekali ia lontarkan. Dalam pembicaraan tentang Ugo, para penulis atau mereka yang mengamatinya, memang secara tak terhindarkan, sulit untuk bisa memisahkan karya-karya Ugo dengan personifikasinya dan tentu, semua seniman tentu melahirkan karya yang sesungguhnya merupakan “representasi” diri dan pandangannya tentang dunia. Dalam konteks medan seni di Indonesia yang dipenuhi oleh semangat-semangat alternatif dan seiarah relasi seni dan politik yang kuat, menjadi romantik merupakan laku yang tampak sepi dan sunyi. Dalam studionya di pinggiran kota Yogyakarta, Ugo membangun refleksi dunia yang diekspresikan dalam beragam emosi: marah, putus asa, pekat. Kelam, sedih, ngelangut dan sebagainya. Belakangan, semasa pandemi cobid berlangsung, dimana orang-orang mencari definisi baru atas “rumah”, atas “ruang domestik”, atas “jejaring sosial”, Ugo rupanya sedang menciptakan ruang perasaan baru untuk dirinya dapat melukis sperti dulu. Setelah hampir sepuluh tahun berkarya dengan penuh pertanyaan kritis atas sejarah dan medium seni itu sendiri, situasi pandemi tampaknya membawa Ugo Untoro untuk kembali melihat lukisan sebagai “cara bercerita”, sebuah upaya untuk menawarkan cara melihat dunia yang berbeda dan menyelami perasaan-perasaan yang tertinggal dalam hiruk pikuk hidup yang berubah sedemikian cepat.
Melalui goresan kuas, komposisi, objek-objek yang saling bertemu, ada perasaan dan kisah yang diejawantahkan, dari cara pandang seorang seniman yang seringkali terpinggir dari wacana awam, dari narasi-narasi arus utama tentang dunia. Seni-seni berbasis konsep yang sering mencirikan perkembangan baru seni kontemporer mendasarkan diri pada pencapaian pemikiran dan wacana seni, melihat penciptaan seni lebih mendekati aspek intelektualisme, atau kemungkinan ilmiahnya yang melintasi disiplin. Pada tindak melukisnya kali ini, intelektualitas Ugo Untoro dimunculkan sebagai sebuah pra-kondisi, artinya pemaknaan terhadap realitas, observasi dan analisanya, merupakan tindak yang dilakukan bersamaan dengan laku menjadi dirinya sendiri, ketimbang diniatkan sebagai sebuah penyusunan konsep atau tema pameran. Di depan kanvas, intelektualitas itu kemudian bertemu dengan imajinasi, sesekali juga fantasi, dan menghasilkan satu narasi baru untuk kita nikmati.
Penjelajahannya untuk mencari kembali makna melukis, yang hampir menjadi menjadi ziarah spiritualnya, yang justru berlangsung secara alamiah, membawanya untuk menghasilkan seri karya-karya berwarna biru seperti yang dipresentasikan dalam pameran ini. Saya kira, pertanyaan “Mengapa Biru?” menjadi tidak begitu relevan lagi.
Tidak semua hal terjelaskan dalam alasan yang tersusun dengan Bahasa. Dalam literatur seni rupa, konsepsi tentang warna sudah sering menjadi pijakan visual, di mana masing-masing seniman berangkat dari situasi dan pemikiran yang berbeda, mulai dari yang sangat konseptual hingga sebagai respons spontan atas kondisi/perasaan tertentu.
Salah satu warna biru yang paling dikenal dalam dunia seni adalah Biru yang diciptakan oleh Yves Klein seniman Perancis, dalam satu serial lukisan monokrom pada 1960an. Bagi Klein, pada saat itu, lukisan monokrom dilihatnya sebagai “jendela terbuka pada kebebasan, karena mengundang kita untuk bisa tenggelam dalam kehadiran warna yang tak terukur.” Meskipun Klein telah menggunakan warna biru sejak awal karirnya, tetapi baru pada 1960an inilah Klein kemudian menciptakan satu trade mark warna biru, yang cerah, yang disebutnya seperti warna lautan, dan bahkan menjadikan proses pendaftaran hak paten untuk warna secara legal sebagai bagian konsep seninya. Biru ini kemudian dikenal sebagai International Klein Blue (IKB). International Klein Blue kemudian juga mengilhami banyak seniman lain Tentu saja, ada banyak seniman juga menjelajahi periode warna biru, seperti Picasso, Cy Twombly, atau David Hockney, atau banyak lagi yang lain, tetapi selalu ada alasan untuk membuat setiap biru ini punya makna personalnya yang berbeda untuk setiap orang.
Saya menyebut penjelajahan Klein atas biru di sini tidak dalam rangka menyebut bagimana pengaruh Klein dalam konseptualisasi karya-karya Ugo; melainkan, saya kira, menjadi upaya untuk melihat kembali bagaimana warna tidak menjadi kotak yang menberi sekat pada praktik penciptaan seniman, tetapi memberi jalan untuk membebaskan diri dari beban simbolisme tertentu. Ugo Untoro, saya kira, iuga memberi perhatian yang besar pada seni sebagai cara untuk membangun alternatif penemuan dan pembebasan diri. Dalam konteks ini, Ugo Untoro tidak menempatkan biru sebagai tema dengan pemaknaan tertentu, akan tetapi, biru menjadi awal masuk untuk membangun gagasan visual, dan kemudian memunculkan narasi-narasi yang diungkapkan melalui fragmen atau kehadiran objek tertentu dalam kanvas. Secara pribadi, Ugo menyebut bahwa ia memang menyukai warna biru, dan melukiskan biru memberi ruang baru dalam dirinya untuk bisa lebih jujur dan genuine dalam berkarya, melepaskan diri dari kegelisahan atas konsep dan definisi. Karya-karya dalam pameran kali ini seperti sebuah titik di mana ia melepas upaya advokasi terhadap posisi lukisan dalam wacana seni kontemporer, dan provokasi-provokasi bentuk atas lukisan. Di sini, Ugo melukis untuk berbagi caranya merefleksikan situasi-situasi keseharian pasca sebuah dunia yang berubah; cerita tentang mereka yang marah dan kalah, terpisah dan terbelah, tetapi mencari celah dan bertahan dalam ruang-ruang tetirah.
1. Yang Hampa dan Tak di Sana
Sebuah bidang kanvas yang cukup besar, tapi terasa sunyi dan getir, seperti sebuah undangan untuk mencari sesuatu pada yang di dalam sana. Pada karya “Potret Diri”, Ugo Untoro menyapukan warna biru dengan kesan yang gelap dan pekat, di mana sosok yang digambarkannya tampak terduduk dengan proporsi yang aneh, direduksi untuk memberi kesan ganjil dan dengan segera ada pertanyaan tentang tubuh manusia, dan perspektif apa yang kita gunakan untuk melihat. Di sisi paling depan, bagian betis menjadi bagian paling menonjol bukannya wajah atau tubuh si lelaki. Pengunjung melihat lukisan ini sejajar dengan dirinya, membawa kita pada kemungkinan saling berhadapan dan memandang, membuka percakapan. Wajahnya diberi goresan warna merah, menyimbolkan kemarahan yang terpendam. Ugo menggambarkan kemarahan ini bukan melulu sebagai kondisi psikologis seorang manusia, tetapi mewakilisituasi yang mengarah pada depresi massal masyarakat masa kini, yang kerap dihadapkan pada situasi mereka tok bisa lagi berdaya pada kehendaknya sendiri dan mesti tunduk pada situasi sosial yang tak bisa mereka kendalikan.
Karya Parking Man menunjukkan bagaimana manusia berada dalam titik hampa ketika tidak ada harapan. Ugo menggambarkan mereka yang terdesak, oleh kuasa dan kapitalisme, mundur menuju pinggiran, tanpa bisa protes atau melawan keadaan yang mendesak mereka. Tubuh lelaki ini tampak membelakangi penonton, sedikit memenuhi sudut kanan kanvas, memandang sesuatu yang kosong nun jauh di sana. Ada nuansa melankolis pada lukisan ini yang membuat kita bisa merasakan kesedihan si lelaki, seperti terpojok dalam dunia yang tak bisa membawa manusia ke mana-mana.
2. Tentang Puisi dan Filsafat
Puisi adalah sebuah dunia yang ditinggali Ugo dalam bentuk Bahasa. Jika melukis adalah imajinasi gambar, maka puisi adalah caranya membahasakan dunia dan perasaan-perasaannya yang tak ternamai. Puisi-puisi Ugo menawarkan keganjilan dari ingatan dan mimpi-mimpi di mana dunia seperti menikam, terbalik, atau sesekali, ada keriangan dan kegairahan yang muncul di sana. Beberapa waktu terakhir, Ugo membaca kembali karya-karya pujangga lama dari khazanah sastra Indonesia seperti Amir Hamzah, Sanusi Pane, dengan permainan pada bahasa yang lebih mendalam.
Ada kerinduan terhadap kosakata masa lalu yang beberapa waktu belakangan terasa tertinggal dalam percakapan keseharian karena pergerakan dunia digital yang memperkenalkan Bahasa-bahasa baru. Momen puitik dalam lukisan lahir dari proses panjang sebelum seniman itu sendiri berhadapan dengan kanvas; ia adalah hasil lelaku mengamati hidup, merasakan penggalan peristiwa dengan penghayatan, yang kemudian semua itu menubuh, sehingga akan muncul dengan sendirinya ketika seniman berhadapan dengan kanvasnya.
Lukisan “His-Story” merupakan salah satu gaya tutur melukis yang khas ala Ugo Untoro.
Ada aspek puitis, melankoli, tetapi juga humor yang satir, sebagaimana perasaan yang kita dapatkan ketika membaca karya-karya puisi terbaik. Seorang lelaki memegang kemudi, berharap pekerjaannya kembali pasca pandemi, sembari diam di tempatnya, tidak bisa ke mana-mana. Tidak saja bekerja dengan kemudi adalah acaranya bertahan hidup, tetapi pada kemudi itu pula harga diri dan identitasnya disematkan, bahwa sebagai manusia ia bekerja, dan karena itu, ia punya harga. Ugo tertarik pada filsafat dasar yang mengupas hakikat kehadiran manusia, dan bagaimana manusia bertahan dalam hidup yang tidak pernah mudah.
3. Tentang Film, Komik dan Narasi-narasi Terpenggal
Ugo Untoro membaca komik semenjak usia belia, dan menonton film-film secara acak pada masa yang lebih kemudian, yang secara tak disadari membentuk banyak aspek dalam caranya membangun cerita dan narasi dalam sebuah lukisan. Karya Asmaraman Khopingho, komik Mahabarata RA Koesasih, dan lainnya, adalah dunia di mana Ugo Untoro menenggelamkan diri dalam waktu, membangun imajinasi dunianya sendiri. Dalam lukisannya, cara berceritanya sesekali memunculkan pendekatan fragmentatif yang membawa kita pada ingatan atas adegan-adegan dalam sebuah film; kamera yang memfokuskan pada satu objek atau seseorang, memberi kesan pengaburan pada latar belakang.
Karya kabar dari lorong seperti dirancang dalam komposisi sinematik yang menggambarkan suasana yang sepi, berada di ambang antara ruang yang muram dan yang memberi harapan. Sebuah bangku tnggu dengan telapak tangan yang terbuka, di lorong rumah sakit tempat orang-orang menunggu kabar tentang hidup dan mati. Ugo membuat karya ini sembari mengingat suara ambulans yang saling bersahutan tiada henti pada masa-masa ketika covid merajalela dan mencengkram. Sebuah tangan yang membuka jalan pada kepasrahan dan penerimaan, atas perpisahan atau perjumpaan sebuah fragmen seperti membawa manusia pada ujung kisah hidup atau membuka cerita baru di fase hidup selanjutnya. Ada bagian biru yang dilukiskan lebih terang dan ringan, seperti celah harapan yang masuk melalui cahaya.
4. Tentang Tradisi dan Ingatan Masa Lalu
Ingatan masa lalu adalah salah satu pengalaman dengan konteks psiko-analisis yang paling banyak menjadi sumber gagasan seniman. Ingatan ini tidak serta merta hadir sebagai peristiwa yang begitu saja dimunculkan kembali, tetapi justru telah diolah dalam kosa visual yang baru lahir banyak perjumpaan dengan mitologi, tradisi, narasi dan hal-hal yang lain yang membawanya pada bentuk baru yang lebih kaya. Ugo Untoro menghabiskan masa kecilnya bergaul dengan berbagai jenis wayang, mulai dari wayang kulit, potehi dan sebagainya serta akrab dengan tembang jawa dari berbagai langgam.
Father and Son; lukisan ini menghadapkan dua figure lelaki yang berhadapan, dengan seekor ular ditengah mereka, yang membawa kita Kembali pada percakapan tentang “dosa asal” manusia. Menurut Ugo, sang anak mempertanyakan kepada sang ayah, mengapa ia mesti memakan buah apel dan membawa kehidupan ke bumi, sehingga anak-anak tak berdosa mesti menanggung beban hidup atas kesalahan mereka. Meski merujuk pada percakapan eksistensialisme yang mendasar, lukisan ini juga menunjukan ketertarikan atas mitos-mitos filososfis yang tak pernah lekang dari praktik penceritaan Ugi Untoro, ketidakpercayaannya pada praktik kecenderungan psiko-analisis pada karya, relasi ayah dan anak juga menjadi tema berulang yang di ubah Ugo untoro, yang menunjuk pentingnya issu personal ini dalam semesta kehidupan Ugo sendiri.
5. Tentang Politik yang Bukan Panglima
Para Pengantin dan Kabar dari Timur adalah dua karya yang dikerjakan Ugo Untoro sebagai hasil perenungannya atas situasi yang berkaitan dengan makin maraknya Gerakan fundamentalisme ataupun terorisme berbasis agama dalam beberapa waktu belakangan. Setelah terorisme dicanangkan sebagai bagian dari situasi politik global pasca insiden 11 September 2001, terjadi pula peningkatan ketegangan politik antara islam dan berbagai pemerintahan lokal di berbagai wilayah di dunia, termasuk pada bagaimana Gerakan-gerakan fundamentalisme ini masuk ke wilayah kehidupan yang lebih dekat dengan dinamika warga. Ada perubahan dalam ruang-ruang sosial skala kecil yang diakibatkan oleh perubahan tafsir tentang politik dan agama, yang mengubah pola interaksi warga dalam kehidupan sehari-hari.
Lukisan “Para Pengantin”, referensinya berasal dari kisah orang-orang yang berjihad, digambarkan naik kuda untuk menciptakan narasi tentang dunia yang dikhayalkan, sebuah harapan atas tanah terjanji. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang tidak tahu tentang apa yang dijanjikan. Tubuhnya ditutup untuk menunjukkan bagaimana mereka ditutupi tubuhnya dan penuh ketidaktahuan. Ugo menyelipkan kekhawatiran terhadap gerakan seperti itu; tentang bagaimana institusi agama menggunakan orang-orang yang tidak tahu untuk berani menyakiti orang lain atau menghilangkan kehidupan demi harapan atas surga yang dipahami maknanya.
Sementara lukisan “Kabar dari Timur” melukiskan sosok seseorang yang membawa bendera hitam (bendera kelompok fundamentalis seperti ISIS) masuk ke dalam teritorri orang lain. Pemaknaan agama dalam masa modern justru semakin mengarah pada radikal, dan lagi terbuka pada kemungkinan tafsir berbasis budaya lokal sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Ugo Untoro melihat bagaimana fenomena pesantren-pesantren masuk ke desa. Awalnya memasuki daerah tersebut baik-baik tapi kemudian mereka dianggap meresahkan karena banyak bentrok dengan masyarakat lokal karena dianggap menanamkan paham yang berbeda. Dalam lukisan, ditampilkan sosok perempuan mewakili warga, sebuah gambaran kehidupan sehari-hari yang diintervensi ideologi tertentu. Bagi Ugo, tidak ada batasan bagaimana seniman mendekati dan memosisikan politik dalam karya. Tapi praktiknya sendiri menunjukkan bagaimana untuk sosok dirinya, politik bukanlah panglima atau jalan estetika yang dipilihnya. Politik hanyalah sebagian kecil dari dunia kemanusiaan yang kompleks, dan menjadi seniman baginya adalah perkara kemanusiaan ketimbang perkara membicarakan politik.
6. Tentang Pedih dan Tetap Bertahan
Salah satu isu penting dalam wacana seni beberapa dekade belakangan adalah bagaimana seniman bertahan menghadapi perubahan dan tantangan yang terus muncul, apa lagi dalam situasi tak terduga seperti pandemi. Karya “Keep Standing, We’re an Artist!” menjadi metafor bagi refleksi Ugo melihat kehidupan seniman masa kini.
Dalam karya ini, Ugo Untoro menggambarkan seniman di sini seperti peselancar yang bermain ombak, terpinggir demi terus menghindar dari terpaan ombak tinggi, tetapi harus terus bisa bertahan. Kesulitan para seniman tidak hanya muncul pada saat pandemi berlangsung, tetapi juga periode sebelumnya ketika boom pasar seni rupa telah berlalu dan banyak dari seniman tidak sempat merasakan hasilnya. Pandemi hanya membuka kerapuhan yang selama ini tertutupi, kembali menampar para seniman dengan kenyataan sulit yang harus dihadapi. Bagi Ugo sendiri, menjadi seniman seperti sebuah pilihan yang tak punya jalan kembali; sekali memilih jalan yang sunyi ini, seniman harus bertahan pada keyakinan hidupnya. Pada awal memilih jalan ini, sering sekali ia menghadapi kenyataan bahwa lukisannya tidak disukai pasar, tidak laku, tidak diminati. Tapi,
“Menjadi seniman tidak untuk menjadi kaya atau populer, fetapi menekuni jalan yang diyakini, dan berusaha menciptakan yang terbaik dari sana.”
7. Dunia yang Asing dan Berlari
Runaway Passenger menggambarkan masa peralihan, carrousell sebagai simbol masa lalu; hiburan atau permainan yang simpel: kumpul-kumpul atau pasar malam. Lalu sekarang dipaksa bekerja di rumah dan terhubung dengan orang-orang melalui teknologi. Caroussel menjadi simbol dari dunia yang terus berputar, selalu berubah, meskipun citra caroussel sendiri seperti datang dari dunia masa lalu. Si penumpang asing ini seperti pelahan kehabisan nafas untuk terus berlari dalam perubahan itu, merasa bahwa ia tidak cocok berada dunia yang sekarang. Dia merasa bahwa perubahan-perubahan yang ada sekarang ini bukan dunia nya; merasa tak bisa berkejaran dengan kemajuan. Dia merasa lebih nyaman dengan dunia yang lebih lambat, dan pelahan melarikan dirinya dalam dunia yang tak terlihat. Dalam lukisan itu, si penumpang caroussel digambarkan bermain sendiri, tak tampang penumpang lain atau situasi yang gempita ata ceria seperti yang kita bayangkan tentang sebah pasar malam.
Ugo Untoro merefleksikan banyak hal berkait isu kegamangan menghadapi perubahan ini, terutama dari pengalamannya sendiri. Ada banyak hal berubah dalam dunia seni disbanding dua pukuh tahun lalu Ketika ia memutuskan menjadi seniman; tidak hanya perubahan sosial politik, sebuah saluran kebebasan yang diimpikan generasi muda pada zamannya, tetapi juga bagaimana internet dan gagasan dunia seni global yang mengubah motivasi berkesenian, atau aspek ekonomi politik seni, menjadi lebih muncul ke permukaan ketimbang perdebatan tentang estetika itu sendiri. Ugo Untoro melihat ke permukaan ketimbang perdebatan tentang estetika itu sendiri. Ugo Untoro melihat dirinya berada dalam persimpangan antara memasuki medan seni yang baru dengan harapannya tentang dunia seni yang lebih romantik, yang lebih jujur, atau, di mana estetika terasa lebih penting ketimbang aspek lain di luar seni.
8. Tentang Melihat dan Memandang
Sebelas karya yang ditampilkan oleh Ugo Untoro di sini tidak berpretensi membawa kita pada percakapan atau pertanyaan tentang apa makna lukisan pada hari-hari ini. Maknanya hadir Ketika lukisan itu sendiri ada, di sana, dalam sebuah ruang dan waktu. Pada titik seperti hari ini, saya kira Ugo Untoro sudah, atau sedang, “selesai” dengan pertanyaan dan kegelisahannya tentang definisi lukisan. Sekarang ini, sebagai seniman, Ugo Untoro meyakini kembali mengapa ia melukis: bahwa aksi melukis adalah manifestasi dari dirinya dalam semesta yang kini, menjadi bagian dari sebuah dunia yang luas dan tak terbatas. Dengan melukis, ia kembali membagi pandangan-pandangannya tentang hidup dengan cara yang sederhana; keberanian untuk mengakui rasa takut, kecemasan atas hari-hari yang getas, atau rasa hampa atas dunia penuh retak. Seperti lukisannya yang terakhir, “Burung-burung yang terbang pulang” Lukisan-lukisan ini dihadirkan untuk mengurai kembali apa makna “melihat” dan “memandang”; sebagaimana ketika John Berger membuat manifesto tentang “ways of seeing”. Melalui lukisan-lukisan yang tampak sederhana ini, kita sebagai penonton mengemansipasi diri kita untuk punya kuasa terhadap tafsir-tafsir yang beragam tentang simbol atau benda-benda yang dimunculkan dalam lukisan.
Bagi saya, emansipasi atas tindakan melihat ini menghasilkan persepsi baru tentang dunia Ugo Untoro; sebuah dunia yang awalnya terasa maskulin dan penuh dengan ego lelaki, kemudian menjadi celah lain romantisisme seniman: bahwa manusia menjadi manusia justru ketika ia membuka sisi lainnya yang rentan dan rapuh, yang selama ini acap disembunyikan, ditolak dan diabaikan. Karya-karya dalam pameran Ugo Untoro kali ini adalah perihal bagaimana kita melihat dan memandang kekalahan dalam hidup sebagai aspek penting dalam perjuangan kemanusiaan, keluar dari glorifikasi tentang heroisme lelaki yang maju ke medan perang dengan pedang dan kuda. Tindakan melihat saya, dalam titik ini, adalah sebuah cara menerima kenyataan baru tentang orang-orang kalah. Sementara, Ugo Untoro, sang seniman, di titik ini seperti menemukan jalan pembebasannya. Setelah satu dekade tampak sibuk membela posisi lukisan dalam praktik seni kontemporer yang makin serba boleh, prosesnya menciptakan karya dalam pameran ini mengantarnya pada ruang di mana ia percaya bahwa melukis masih punya maknanya dalam carut dunia. Setidaknya, ia menemukan proses melukis sebagai cara merekam hal-hal yang dilihatnya, tidak hanya dengan mata, tetapi dengan hati dan imajinasi. Di sini Ugo membebaskan dirinya dari beban atas sejarah lukisan itu sendiri, atau beban untuk terus melahirkan kebaruan, dan karena itu ia seperti lahir kembali untuk bercerita. la seperti enggan membangun simbolisme, tetapi, kita tahu bahwa karyanya menawarkan metafora. Pada kanvas-kanvas biru inilah, kita dihadapkan pada cerita dan narasi tentang hal-hal yang berubah, entah karena penemuan dan teknologi baru, atau perasaan-perasaan yang tertinggal dari sebuah peristiwa, yang membantu kita mencipta empati dan mengasah kepekaan hati.
Related Writings
View AllSakramen Hujan
Hujan, bagi Ugo adalah sebuah metafora yang dalam, sebuah pemanggil ingatan akan siklus abadi yang mengikat seni dan eksistensi, menolak segala bentuk stagnasi dan kekeringan jiwa.
Have You Been There? Have You Been There?
Asumsi kita paling kokoh mengenai Ugo Untoro adalah soal monumen. Tentang sosok, perjalanan hidup, gagasan, tindakan, maupun ekspresi seni yang diciptakan melalui karya-karyanya adalah monumental.
Marang Ibu
Sehelai kertas, ketika mulai digunakan, maka saat itu kesementaraan datang. Menyelamatkan kertas dari kuburan lewat nilai, eksplorasi komik, dan doa untuk ibu.