Passage

Setelah Komposisi – Retrospective Exhibition

By Stanislaus Yangni • Curatorial Essay •2015

1/ Ugo, Perihal Melukis

Bercerita tentang Ugo sebenarnya berkata-kata tentang sunyi, kendati ia hidup bersama riuhnya cerita bergambar RA Kosasih, Jan Mintaraga, Ganes Th, Hasmi, sampai Agen Polisi 212, Tintin dan Lucky Luke. Begitu pula yang bisa kita lihat dari lukisan-lukisannya. Diam yang ternyata sarat kisah.

Sepanjang perjalanannya, melukis dan lukisan menjadi hal yang selalu digelisahkannya, sebab Ugo melukis sekaligus tak ingin membuat lukisan. Singkat kata, mungkin, melukis bagi Ugo, alih-alih membuat lukisan, melukis adalah membongkar lukisan. Itulah mengapa beberapa tahun yang lalu secara tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, “Bagaimana sih melukis elek?”

Begitulah, sepanjang perjalanan keseniannya, Ugo, meminjam istilah yang sedikit ilmiah, “memproblematisasi” melukis dan lukisan itu sendiri lewat melukis. Ia menertawakan lukisan seperti ia menertawakan dirinya sendiri yang sedang melukis. Ia bolak-balik mempertanyakan perihal melukis dan lukisan. Baginya, melukis bukan membuat lukisan, melainkan perihal melukisnya itu sendiri. Membuat lukisan yang secara umum dipahami tidak bisa dilepaskan dari kegiatan membuat komposisi, menata, menyusun, menjadikannya indah, harmonis, seimbang, bagi Ugo itu semua “menghias.” Dan ia tak ingin ‘menghias.’ Ia ingin painting yang mengizinkan untuk “jelek.” Tapi apakah jelek itu, dan apa pula bagus itu? Tanpa sengaja mungkin Ugo jadi bersentuhan dengan pertanyaan mendasar seni.

Tulisan ini secara singkat hendak memberi gambaran perjalanan kreasi Ugo, tidak secara kronologis, melainkan mencatat beberapa momen penting dalam perkembangan karyanya. Bagian pertama, Corat-Coret, memaparkan semacam “titik balik” Ugo mengatasi yang akademis, bagaimana ia menemukan metode dan cara ungkap dalam melukis. Kedua, “Ruang Kosong” memperlihatkan bagaimana ruang kosong yang muncul sebagai ‘kelanjutan’ di era corat-coret menjadi bagian penting dari lukisan Ugo. Selanjutnya, “Genesis” mencoba mencari keberadaan komposisi estetik, semacam komposisi “non komposisi” dari eksperimen paling akhir Ugo.

2/ Corat-Coret

Sekitar 1993-1994, saat Ugo masih di bangku kuliah, tiba-tiba ia tidak melukis lagi. Ia mencoret-coret. Atau tidakkah ia sedang melukis, atau mencoba melukis dengan cara lain?

Ada tiga tren aliran lukisan yang paling kuat melanda kampus ISI waktu itu: surealisme, dekoratif, dan naif. Sayangnya, ketiganya yang banyak ditiru mahasiswa angkatan itu, tidak pas buat Ugo. Dibanding “membuat lukisan” yang dekoratif, naif, ataupun surealis, Ugo lebih asyik mencoret-coret sendiri, melihat berbagai gambar di tembok-tembok tepi jalan, menemukan bahwa media apapun bisa menjadi medium ekspresi. Begitulah, mungkin saat itu menjadi “titik balik” pertama Ugo dalam melukis.

Berbeda dengan lukisan-lukisannya 1990, di 1994 kanvasnya tak ada lagi warna tertentu yang sengaja disiapkan sebagai latar belakang. Hanya putih kanvas, atau hanya satu warna hijau tipis, lalu diisi berbagai gambar pensil, charcoal, kuas, kapur, pastel, bolpen, atau apa saja. Beberapa hanya diarsir sebagian, lalu di beberapa bagian ada bekas cat, ada juga yang ditinggalkan begitu saja. Gambar-gambar seperti ‘dilempar’ semuanya ke atas kanvas, tanpa disusun. Ugo seperti hanya menggambar apa saja: wajah, bangku, botol, sandal, apa saja benda-benda yang bisa dan ingin dia gambar. Lama kelamaan, di masa selanjutnya, semuanya seperti menemukan susunannya sendiri.

Dari eksperimen yang mungkin tidak disengaja itu, Ugo tampak menemukan lukisan lain – sebuah lukisan yang telanjang dengan garis-garis mentah yang dibiarkan begitu saja, tanpa diisi warna, polos, seperti tanpa ada tujuan melukisi, mengisi, atau menyusun. Ia seperti menemukan sebuah metode semacam alla prima, direct painting yang mungkin lebih cocok untuk menghadirkan ekspresinya, di mana melukis itu bisa langsung tak lagi harus ada latar belakang sebelumnya di kanvas, dan kadangkala semuanya langsung bisa terjadi pada satu bidang. Implikasinya, relasi antara figur dan latar belakang berubah. Karena semuanya berada pada satu bidang, mereka menjelma lain: figur tidak semata-mata ada untuk ditunjukkan, melainkan mampu menciptakan ruang/bidang kanvas. Figur punya daya bukan karena ia sengaja dimunculkan, diadakan oleh latarnya, melainkan mengadakan latar. Kalau biasanya latar belakang dibuat sedemikian rupa untuk kepentingan keberadaan figur, kini yang terjadi di lukisan Ugo bisa sebaliknya, figur yang menghidupkan ruangan di sekitarnya. Pendek kata, keduanya bisa jadi sama kedudukannya. Ini menjadi sebuah tantangan baru dalam melukis. Bandingkan dengan lukisan era 1990 yang masih tampak jelas perbedaan latar belakang dan figurnya.

Corat-coret menjadi bagian penting dalam karya Ugo selanjutnya, antara lain muncul di Seri Tidak Jadi (1999) dan Rumah no. 74 (1997). Selain eksperimentasi media, teknik, sampai berbagai efek yang ditimbulkannya, kita melihat ada yang jelas tertinggal, yaitu jejak garis ‘mentah’ telanjang yang dibiarkan begitu saja. Garis itu kelak menjadi bagian penting dalam karyanya, misalnya dalam Mengurai Rantai (2010) yang seperti menginggalkan sketsa kaki, lalu Heart (2013), tampak masih garis-garis sketsa badan gitar yang masih ditinggalkan. Ada pula dalam Still Life Van Gogh (2013) garis yang seperti ditambahkan “ditegaskan” menjadi semacam ‘penyangga,’ atau hanya tampak digores saja seperti di tepian tubuh botol wine pada Lets Talk no.9 (2009). Still Life with Van Gogh tampak sangat simpel, serupa sketsa cat air, serupa apa-apa yang tidak dipenuhi, apa-apa yang dikosongkan, dibiarkan begitu saja. Di lukisannya tampak bahwa corat-coret yang sarat dengan nuansa ‘semrawut,’ ‘brutal, agresif, hanya ‘memenuhi,’ ruwet, telah menggeser dirinya sendiri menjadi bentuk lain: simpel, kosong, sederhana, diam, kadangkala satir. Dalam lukisan Ugo, corat-coret ini pada akhirnya menjadi sesuatu yang mengosongkan, bukan memenuhi. Lewat corat-coret, Ugo seperti menemukan “cara ungkap” baru dalam melukis.

3/ Ruang Kosong

Dalam konteks melukis, corat-coret Ugo bisa berarti mengosongkan, melepas, membebaskan apa-apa itu melukis (formal). Namun dalam konteks lukisan, kalau diamati, coretannya mengisi sekaligus memberi kesempatan ruang kosong untuk muncul, presence. Maka problemnya bukan lagi mengisi bidang (lukis), melainkan mengosongkannya. Sebab mengosongkan seringkali lebih sulit dibanding memenuhi.

Pada karya kertas era 1998 yang hanya corat-coretan bolpoin, antara lain Empat Batu, Potret Diri, Bulan Pecah, dan sebagainya, tampak semacam “studi” – mungkin juga komposisi – antara mengisi dan mengosongkan. Keduanya terlihat berelasi kuat, sesuatu seperti sekaligus wadah, sekaligus isi – antara yang dipenuhi arsiran lebih gelap, atau dikosongkan putih, bergantian. Kalau diamati sedikit lebih jauh, hingga di coretan-coretan penanya di kertas pada 2000an, terlihat bahwa walau Ugo seperti sedang menggambar obyek, tapi sebenarnya ia sedang menciptakan space, ruang kosong di antara obyek itu menjadi tampak. Singkatnya, setelah obyek ada, ruang kosong itu “bicara,” kemudian terjadi sebaliknya, ruang kosong itu yang ‘membentuk’ suasana, mood dalam lukisan.

Dalam salah satu dari seri karya Dialog (2007), misalnya, selain jenis biru, ekspresi figur, yang paling kuat di sana tampak adanya ruang antara, sebuah jeda, spasi. Figur menjadi tidak tampak sekaligus tampak terpisah karena blok warna biru itu. Ada kesan peristiwa sedang terjadi di ruang kosong, serupa dialog-monolog-dialog antar figur yang menempati waktu dan ruangnya sendiri – ia ada bersama namun tampak masing-masing. Tampak hanya satu orang tapi sekaligus banyak: satu menjelma yang lain. Ruang-ruang jeda yang tampak sebagai jarak, atau batas itu kemudian bak menjadi semacam zona lebur.

Bertahun-tahun sebelum Dialog, ada Drama Pembajakan Suara (1995). Karya ini muncul era Soeharto, sebelum reformasi dilatari buku Harold Crouch yang ditemukan Ugo. Kosong putih kanvas terlihat berfungsi sebagai pemisah dua adegan, di sapuan warna hijau ada gambar (sketsa) mesin tik di mana ada yang hilang atau dihilangkan, alphabet tidak ada, hanya tanda-tanda bacanya pada mesin tik, di bidang kanvas bawah, ada gambar ruang lain semacam ruang sidang. Dua gambar itu berbeda, tapi masih satu kisah, entah di ruang lain pada waktu yang sama, atau memang pada jam yang berbeda ruang yang sama. Keduanya tampak seperti panel komik, seperti scene film yang sedang dicoba digambarkan dalam satu kanvas namun jenis keterhubungannya berbeda, atau agaknya tidak sekuat dengan yang ada pada Dialog.

Maka, selain garis mentah corat-coret, ruang kosong, lelehan cat, bidang warna yang dilukai, dan sebagainya, ada satu lagi yang sering kita temukan dalam lukisan Ugo, yaitu sobekan, penggalan.

Cuplikan, sobekan, penggalan seperti mengambil sebagian untuk keseluruhan, tapi juga tujuannya tidak selalu itu. Kadangkala hanya untuk menampilkan sobekannya itu. Jenis ini pula yang sering kita temukan di lukisan Ugo. Mungkin baginya, sobekan, apa yang sepotong yang seringkali tidak diperhatikan itu justru merekam sesuatu, dan itulah peristiwa; bukan berarti cerita, melainkan momen beku, jejak dari yang hidup: potongan koran pembungkus nasi kucing, bungkus rokok yang dicatati harga, nota pembelian, hitung-hitungan warung, gelas kopi yang dibiarkan di meja, puntung rokok yang masih menyala di asbak ditinggal pemiliknya, orang tua yang duduk menunggu di bangku taman, dan sebagainya. Semuanya itu semacam “sobekan,” “penggalan.” Tapi justru karena sobekan yang dianggap tidak penting itu sesuatu jadi tertinggal menjadi belum, atau ditunda untuk selesai. Bahkan kata-kata yang sering dituliskan Ugo di seri lukisan tulisan, salah satunya Akhirnya Anjing (2012) itu pun belum tentu ada awal dan akhirnya. Ia (kata-kata) hanya melintas di tengah, seperti sebuah proses melukis itu sendiri yang berjalan bolak-balik, hingga lukisannya tampak sebagai “proses menjadi,” menggunakan istilah Wittgenstein dalam Logika, yang juga digunakan Deleuze dalam estetikanya, sebuah possibility of fact.

Selain pada yang paling cair seperti corat-coret, pertanyaan mengenai lukisan itu juga dilanjutkan Ugo ke titik “formal”nya. Di Painting Series no. 7 (2011), misalnya Ugo mencoba menghadirkan painting lewat painting, melukis lukisan melalui melukis unsur-unsur yang biasanya ada dalam lukisan itu sendiri, semacam tekstur, warna, sapuan, garis, bidang, dan sebagainya.

4/ Genesis, (Setelah) Komposisi

Genesis adalah salah satu judul dari lukisan Ugo di 2014. Lukisan ini berseri. Kalau sebelumnya perihal corat-coret, perihal ruang, kini soal warna. Sejarah warna Ugo adalah warna-warna yang dikatakannya “letek,” “butek,” suram. Warna-warna tanah, istilahnya. Lukisannya dominan nuansa warna itu, atau monokrom. Namun setelah genesis, kita melihat perubahan warnanya yang jadi lebih “menyala.”

Lukisan seri genesis diawali dari pertanyaan mengenai komposisi. Komposisi semacam apa, dan bagaimana komposisi lahir (lagi)? Jika melukis bisa dilepaskan dari komposisi, menjadi bagaimanakah itu? Adakah sesuatu yang dinamai lukisan di luar komposisi?

Kita ingat sepasang dewa yang kerap digambarkan menjadi dua hasrat berlawanan, appolonian dan dyonisian, antara menata dan membongkar. Bagaimana menyatukan keduanya, itu tampaknya problem Ugo lewat peristiwa melukisnya. Di Genesis, ia memulainya dengan palet, wadah untuk menempatkan dan mencampur cat para pelukis.

Semua bermula dari palet, ditemukan juga di palet. Palet itu tidak pernah disusun, jelas, bahwa ia ada begitu saja, dan kadangkala memang menakjubkan. Tumpukan cat pada palet dengan sendirinya punya pola, semacam ritme yang bahkan tak pernah disadari oleh pelukisnya. Di palet orang sekenanya mencampur, meletakkan warna lagi, tumpang tindih. Dan di sana orang tidak mengomposisi. Nyatanya, seringkali kita lihat palet itu artistik, kadangkala malah pas. Ugo mencoba memindah palet yang paling dasariah itu di atas kanvas. Tapi, setelah melihat hasilnya, ia mengeluh, “Kok ngomposisi lagi.”

Namun ada semacam komposisi lain lagi yang muncul lewat peristiwa “de-komposisi” itu – entah disadari atau tidak, muncul semacam komposisi yang “non komposisi,” dari komposisi yang teknis menuju komposisi yang estetik, technical composition menjadi aesthetic composition – yang terakhir ini merupakan komposisi yang selalu harus dicari dan ditemukan, sebab ia tidak pernah berhenti. Seni, apapun bentuknya, mau tidak mau harus sampai ke sana untuk tidak terjebak hanya pada yang teknis dan klise. Namun, untuk sampai ke sana, yang teknis seringkali harus dikosongkan dahulu.

Melalui “palet”nya, atau setelah genesis, Ugo menemukan warna lain, hubungan lain, semacam ritme dan komposisi lain yang paling tampak kemudian pada karya-karya setelah seri genesisnya, yaitu karya-karya figurnya. Figur-figur ini bisa jadi digunakannya bukan semata sebagai figur, namun sebagai kelanjutan dari eksperimen warnanya. Maka tampak di sana berbagai warna lebih “garang” dan lebih banyak variannya. Ada yang saling menguatkan, saling melemahkan, kemudian saat ditambah warna lain sedikit, menjadi kuat lagi, disandingkan dengan lainnya, menimbulkan efek lain. Lukisan Bout Father (2015), misalnya, warna latar dan warna figur itu tampak sedang “bicara.” Pada Figur, ada “bidang” warna grey-orange dengan orange, abu-abu-ungu, abu-abu-biru, abu-abu-olive green, dan berbagai warna yang lebih tak terbatas variannya, sedangkan di latar ada semacam grey-olive green, dengan lantai merah yang gradasinya tampak tak lagi berurusan dengan datangnya cahaya dari arah mana.

Pekerjaan melukis, dalam konteks ini Ugo, seperti “reworkings,” seperti pekerjaan di atas wadah palet: orang berkali-kali menimpa, dan mencampur, meralat campuran dengan campuran lagi, dan sebagainya hingga tiba-tiba menemukan warna yang diluar rumusan warna. Di sinilah tampaknya lukisan Ugo era 2015 bisa dilihat, bahwa ada pergeseran nuansa warna. Ada warna-warna lain yang muncul, warna-warna yang relasinya tak lagi gelap-terang, tak lagi chiaroscuro yang biasa muncul pada warna-warna Ugo sebelumnya, melainkan semacam – mungkin masih terlalu dini mengistilahkannya sebagai “broken.” Ia bisa jadi merupakan hasil reworkings atas Figur: bolak balik, tumpang tindih cat yang dioleskan dengan pisau palet.

Tak hanya “lukisan” palet-warna yang dihadirkan ke kanvas lukisan figur, melainkan juga bekas-bekas pembersihan pisau palet dari cat minyaknya. Kendati itu diletakkan begitu saja, ia tampak menyatu dengan keseluruhan bidang. Di Olympia after Manet (2015), misalnya, pada tubuhnya, meskipun itu semua akhirnya jadi “palet”nya Ugo, pada tubuhnya ada berbagai varian gray-blue yang disandingkan dengan blue, dan bekas pembersihan pisau palet di bagian lutut Olympia, itu mungkin tak sedap, “janggal” dipandang mata, tapi ia menyatu dengan lukisan – ia menjadi lukisan itu sendiri.

Demikian juga pada tepian kanvas Bout Father – bisa jadi ini hasil dari relasi warna yang tidak dalam porsi yang sama campurannya, menghasilkan warna-warna komplementer yang “broken.” Namun tidakkah warna-warna “broken” itu menjadi warna yang memungkinkan komunikasi terjadi di seluruh bidang kanvas oleh karena ia memuat semuanya? Pendek kata, warna seperti menemukan jenis “komunikasi”nya sendiri. Karena itu, bukan lagi komunikasi figur lewat ruang, tapi lewat warna. Agaknya ini membuka peluang, sebuah tantangan bagi perjalanan melukis Ugo.

5/ Passage, Penutup

Pertanyaan awal mengenai “melukis jelek” sebenarnya bisa menjadi benang merah ketika membicarakan perjalanan kreasi Ugo. Dengan kata lain, dalam konteks pencarian atas “yang jelek,” “yang tanpa komposisi,” “yang rusak” itulah kita bisa membaca eksperimentasi Ugo. “Jelek” dalam arti apa akhirnya yang ditemukannya? Gambar yang tak disusun di era corat-coret 94nya kah, atau gambar seperti bidang yang disapu awut-awutan pada Rumah no. 74, seperti sobekan pada Scene no. 5 (2009), seperti gambar bolpen separuh meja dengan gelas kopi di atasnya pada gambar di kertas era 2000, bekas palet, lelehan cat pada Disposable Hero no. 14, figur “rusak” Olympia After Manet, atau warna “broken” pada Bout Father itu? Mereka (efek-efek itu) tampak mengejutkan, janggal, tapi tidak bisa diingkari bahwa mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari lukisan, ikut andil membentuk “komposisi yang (setelah) komposisi.”

Perjalanan melukis Ugo sarat transisi dan tidak linear, sebab problem painting pun tidak pernah sama, meskipun tampaknya berputar di hal yang itu-itu saja. Namun, sejarah membuktikan bahwa problem melukis muncul diisi dengan berbagai peristiwa zamannya. Hanya rasa ingin tahu dan daya eksperimentasi lah yang mengundang seniman beranjak dari satu titik ke titik lain, selalu tertahan untuk berhenti.

Menilik lukisan-lukisan Ugo, kita menemukan bahwa “bagus,” “indah” dan “jelek” itu sudah usang, tidak bisa dipakai menjadi kriteria bagi seni. Mengapa? Sebab ketiganya ada dalam kerangka komposisi teknis, sesuatu yang harus dilampaui ketika berkarya. Karena itulah Ugo mungkin menemukan bahwa painting tak pernah habis. Maka jika painting dikatakan selesai, bahkan mati, mungkin kita bisa melirik ke Ugo yang masih melukis dan menyimpan segudang pertanyaan menantang untuk dijawab

Related Writings

View All